Tampilkan postingan dengan label TIPS MARKETING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIPS MARKETING. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2011

Banyak Jalan Menggaet Pelanggan


dan target pasar yang Anda bidik. Tidak semua cara efektif dan cocok diterapkan sebagai acuan. Tiap jenis usaha memiliki karakteristik dan cara pemasaran yang berbeda.
Media promosi berkembang sangat pesat dari tahun ke tahun. Kalau dulu hanya ada koran, majalah, radio, dan TV, kini internet dan mobile media (seperti handphone) pun ikut berperan besar. Dengan ikut mailing list, mempunyai website gratisan di multiply, atau punya account di jejaring sosial seperti Facebook, memasarkan produk kini menjadi lebih mudah dan murah. Peluang menemukan pelanggan pun makin besar. Anda hanya perlu mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing media ini sebelum memanfaatkannya.
Pemasaran lewat website
Kelebihan:
  • Interaktif (komunikasi dua arah)
  • Promosi bisa dilakukan selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun
  • Jangkauan pasar luas
  • Informasi produk bisa detail
  • Bersifat permanen
Kekurangan:
  • Perlu pengelolaan yang baik
  • Harus sering meng-update informasi/data
  • Perlu keahlian khusus
  • Target pasar tidak spesifik
  • Produk tidak bisa dilihat langsung oleh konsumen
Promosi lewat e-mail
Kelebihan:
  • Murah
  • Interaktif (komunikasi dua arah)
  • Merupakan sarana komunikasi penting saat ini
Kekurangan:
  • Bergantung pada database anda
  • Informasi dan branding terbatas
  • Sering disalahartikan sebagai spam
  • Memerlukan keahlian menulis
Pemasaran via Mobile Media (handphone)
Promosi lewat SMS (short message services)
Kelebihan:
  • Sangat personal
  • Teknologi mudah dan murah
  • Perangkat sederhana (HP dan pulsa)
Kekurangan:
  • Kurang disukai karena mengganggu privasi
  • Komunikasi dibatasi jumlah karakter
  • Satu arah
  • Branding tidak sempurna, hanya teks tanpa gambar
  • Biaya per SMS tinggi
Sumber :
http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&
SMC=004&AR=2

Menyiasati Trend Pemasaran


”Seorang pelaku wirausaha akan sukses jika tidak semata-mata mengandalkan tren bisnis, melainkan harus pandai pula memanfaatkan tren pemasaran saat ini.” Begitu kata pakar marketing Rhenald Kasali. ”Kita jangan hanya terpaku pada jenis bisnis yang sedang menguntungkan, melainkan perlu memahami cara mengelolanya. Jadi, lebih penting dibandingkan sekadar membuat produk.”
Ada beberapa hal yang ikut menentukan sukses tidaknya pengelolaan bisnis saat ini, yaitu:
1. Speed atau kecepatan. Apa pun bisnis yang Anda pilih, tidak akan berhasil bila tidak bergerak cepat. Tapi, waspadalah, pelaku usaha cenderung tidak ingin mengungkap keberhasilan usahanya, karena khawatir diikuti. Jadi, hati-hati, jika orang mengatakan suatu bisnis berprospek cerah. Sebaliknya, buka mata dan telinga, jika orang mengatakan suatu bisnis kurang menjanjikan. Di sinilah pentingnya creative economy. Produk boleh sama, tapi kreativitas akan lebih dituntut.
2. Lintas batas. Di era perdagangan bebas ini, berpikirlah untuk selalu melakukan perdagangan lintas batas. Cobalah memperkenalkan produk Anda seluas-luasnya, agresif merangkul peluang untuk pengembangan bisnis, dan bersiaplah menghadapi persaingan.
3. War of talents. Anda perlu merebut tenaga-tenaga terampil, kalau tidak ingin hanya kebagian sisanya. Jangan percaya bahwa sukses bisa diraih tanpa pendidikan. Seberapa pun suksesnya sebuah bisnis, siapa pun orangnya, dan apa pun bisnisnya, menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tetap penting.
4. Lifestyle of economy. Penampilan sering kali mempengaruhi penilaian seseorang. Karena itu, ubah penampilan Anda, baik secara fisik maupun wawasan. Jangan menjadi tua karena penampilan, sehingga orang merasa enggan untuk berinteraksi dengan Anda.
5. Mental pengusaha. Ini penting agar Anda bertahan sebagai pengusaha UKM, terutama agar Anda melihat sebuah masalah sebagai kesempatan. Banyak bisnis yang bisa dikembangkan dari masalah. Inilah yang disebut sebagai energy alternative. Mulailah melirik peluang dan melakukan langkah-langkah, yang mungkin luput dari penglihatan orang lain.
Tren pemasaran masa depan:
Selling the concept, not the product. Mulailah bisnis dengan merencanakan konsep, bukan hanya produksi.
Dream society. Bisnis yang tumbuh sepuluh tahun ke depan adalah yang bermuatan spiritual dan emosional, misalnya wisata dan ketenangan jiwa.
Access and speed: virtual and online marketing. Jarak dan waktu kini bukan kendala bisnis. Lakukan promosi dan marketing dengan fasilitas teknologi, yaitu melalui SMS dan internet.
Community marketing. Pemasaran bisa dilakukan dengan membidik komunitas tertentu, misalnya komunitas hobi.
Aggresive selling. Merek yang tidak kuat, sekalipun terkadang sukses di pasaran, terjadi karena pemasaran agresif, contohnya bisnis MLM.
Viral marketing. Buatlah produk Anda ‘bercerita’, sehingga pemasaran bisa berjalan dengan sendirinya dari mulut ke mulut, layaknya virus yang menyebar.
Niche marketing. Pasarkan produk khusus bagi pasar yang khusus pula, misalnya CD khusus bagi orang yang ingin berhenti merokok.
Creative marketing. Mencakup ‘penemuan’ baru, mulai dari pemikiran paling sederhana, hingga ide kreatif yang orisinal.
Tip:
  • Fokuskan usaha pada suatu target. Jangan tergoda untuk mengubah target secara impulsif.
  • Berpikirlah outside in, bukan inside out. Terbuka pada perubahan yang terjadi di luar, untuk kemudian diterapkan bagi pengembangan usaha.
  • Kesuksesan dan cara Anda berbisnis juga dipengaruhi oleh lingkungan dan komunitas. Lingkungan orang sukses dan pekerja keras akan memengaruhi Anda jadi pengusaha sukses.
  • Sukses itu tidak diukur dari seberapa tinggi Anda mampu meraih, melainkan seberapa cepat Anda bisa kembali saat Anda jatuh, dan memulai sesuatu yang baru.
Sumber :
http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=004&AR=3

7 Kesalahan Terbesar dalam Menetapkan Harga


Salah satu tantangan terbesar dalam setiap bisnis adalah menentukan harga jual produk. Ini tak hanya terjadi pada bisnis yang baru dimulai, namun juga pada bisnis yang sudah mapan, khususnya yang punya marjin keuntungan rendah karena persaingan yang ketat dengan kompetitor produk sejenis. Masalah paling penting dalam hal harga ini adalah soal risiko. Menetapkan harga terlalu tinggi, risikonya produk tidak laku. Sebaliknya, menetapkan harga terlalu rendah, risikonya tak akan ada untung.
Dilema harga ini sebenarnya bisa dihindari dengan cara mencari informasi yang cukup sebelum menetapkan harga. Jadi, penetapan harga itu sebaiknya setelah melalui pertimbangan yang matang setelah memperoleh informasi dari pasar, pelanggan, serta dari hitung-hitungan Anda sendiri.
Berikut ini 7 kesalahan penetapan harga yang sering terjadi. Jika bisa menghindarinya, tak hanya bisnis Anda menjadi yang terdepan dalam kompetisi, namun juga lebih sehat.
1. Memasang harga terlalu rendah dan selalu mengurangi keuntungan.
Bagi sebagian pelaku bisnis, cara ini bukan sebuah kesalahan, melainkan sudah menjadi strategi. Sayangnya, ini bukan strategi yang bagus. Menetapkan harga terlalu rendah mungkin bagus untuk jajaran produk yang tingkat lakunya tinggi, namun sebeanrnya ini menimbulkan kekacauan pada fondasi bisnisnya sendiri, karena untung Anda mengecil. Sementara untung inilah yang diperlukan untuk mendorong agar bisnis tetap hidup. Jadi, perlu menyesuaikan antara harga dengan untung yang dicari. Dengan pendekatan ini, mungkin Anda tak bisa merangkul konsumen yang 'peka harga'. Namun hal ini justru bagus. Kompetitor yang menerapkan harga terlalu rendah untuk merangkul konsumen ini, nantinya juga akan menyadari bahwa cara itu tidak memberikan keuntungan.

2. Mematok marjin keuntungan yang sama untuk semua produk.
Tidak ada aturan, keharusan, atau teori apapun yang menyatakan bahwa semua produk harus mempunyai marjin keuntungan yang sama. Produk yang lambat laku sebaiknya mempunyai marjin keuntungan yang lebih besar dibanding produk-produk yang cepat laku. Dengan cara ini pun Anda sebaiknya tetap mencari cara untuk meningkatkan value (nilai) dari produk yang laku keras itu agar punya marjin keuntungan yang lebih besar. Perlu diingat, kenaikan keuntungan sedikit saja dampaknya akan besar terhadap keseluruhan bisnis.
3. Tidak paham beda antara marjin dan mark-up.
Marjin keuntungan selalu didasarkan pada harga jual, sementara mark-up selalu didasarkan pada biaya yang telah dikeluarkan untuk memproduksi barang. Jangan sampai misalnya, melakukan mark-up 100%, namun harga lalu didiskon 50%, dan setelah dihitung-hitung lagi ternyata harganya sama dengan harga dasar produk, alias tidak mendapat untung sama sekali.
4. Lupa tidak memasukkan semua komponen biaya.
Supaya bisa menetapkan harga dengan benar, setiap biaya yang telah dikeluarkan harus diidentifikasi dan dicatat. Bahkan hal-hal kecil seperti biaya kartu kredit yang 1-3% setiap kali transaksi, akan terakumulasi jika tidak diikutsertakan. Biaya kemas, biaya antar, sampai biaya membeli cutter kecil, juga perlu dimasukkan. Pencatatan dan penghitungan ini penting karena biaya kecil-kecil ini ikut memberikan dampak terhadap bisnis.
5. Menirukan apa yang kompetitor lakukan.
Daripada meniru pola kompetitor -yang mungkin punya proses atau biaya berbeda dalam membuat produk- lebih baik kaji sendiri apa sebenarnya value produk yang Anda tawarkan kepada konsumen. Kemudian hargailah produk Anda sesuai nilai tersebut. Dengan cara ini, Anda punya alasan logis yang kuat jika harga itu dibanding-bandingkan oleh konsumen.
6. Menetapkan komisi berdasar harga jual, bukan dari harga dasar.
Ini sama dengan kasus marjin versus mark-up tadi. Lagi-lagi, keuntungan bersih Anda harus menjadi pegangan. Membayar komisi dari bagian keuntungan Anda sama saja dengan memberikan bisnis Anda kepada tenaga penjualan.
7. Memberi diskon, bukannya menambah nilai.
Diskon selalu memangkas keuntungan. Hanya dengan 10% diskon, sebuah bisnis bisa saja perlu menjual produk 50% lebih banyak agar tetap bisa mempertahankan keuntungan yang sama. Biaya juga meningkat jika selalu bermain-main dengan diskon.
Daripada memotong keuntungan, cobalah cari apakah ada cara lain yang bisa dilakukan untuk menambah nilai produk, tanpa perlu mengurangi harga. Pertambahan nilai ini artinya bahwa Anda memberikan kepada konsumen sesuatu yang bukan keluar dari porsi keuntungan. Jika dilakukan dengan tepat, added value ini akan memberikan kesan lebih kepada konsumen, yang ujung-ujungnya membuat mereka kembali lagi.
Yang juga patut diingat, Anda tidak akan selalu menang dalam perang harga melawan kompetitor. Namun dengan memahami dilema harga ini, keuntungan yang terselamatkan itu akan membawa usaha Anda tetap hidup dan untung.

Sumber :
http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=004&AR=5

6 Cara Mengubah Pengunjung Menjadi Pembeli


Bagi seorang wirausaha baru, tak ada yang lebih membuat sedih daripada melihat seorang pengunjung masuk ke toko atau gerainya, namun kemudian keluar lagi dengan tangan hampa, alias tidak ada yang dibeli. Bayangan uang yang akan didapat pun menguap, begitu pula harapan bisa merubah ‘status’ pengunjung itu menjadi pelanggan. Umpan sudah dipasang di segala sudut, tapi si ikan tak menyentuh satu pun.

Bagi bisnis yang baru berjalan, setiap penjualan memberi arti penting. Sebab Anda belum punya pelanggan fanatik yang bergantian menelepon atau antri di depan toko. Jadi, Anda perlu mendapatkan pelanggan dari orang yang menyengaja datang. Tapi jika dari 100 pengunjung hanya 10 orang yang akhirnya membeli, Anda pantas bersedih. Sebab ini tak cuma menyangkut kehilangan penjualan dan pelanggan potensial saja. Anda tentu telah menginvestasikan banyak waktu, uang, dan tenaga untuk mempromosikan bisnis Anda. Mungkin juga telah beriklan, membuat leaflet, standing banner, mengirim ratusan sms, e-mail, mencetak kupon diskon, dan lain sebagainya. Kalau dengan cara ini ternyata hanya sedikit pengunjung yang akhirnya bisa dirubah menjadi pembeli, berarti Anda perlu mengalokasikan upaya lebih besar lagi untuk menarik mereka.

Namun, Anda bisa meningkatkan rasio ‘pengunjung menjadi pembeli’ ini dengan beberapa teknik sederhana. Langkah pertama adalah menghitung tingkat konversi sebenarnya dari shopper menjadi buyer tersebut. Untuk bisnis tradisional, ini mudah. Cukup dengan menghitung berapa orang yang datang ke toko dan berapa yang akhirnya membeli. Untuk bisnis berbasis online, Anda bisa menggunakan bantuan perangkat lunak yang bisa menganalisis pengunjung website. Misalnya Google Analytics (http://www.google.com/analytics/) atau Deep Log Analyzer (http://www.deep-software.com/).

Tingkat konversi ini bervariasi dari bisnis ke bisnis. Misalnya saja, tentu akan lebih cepat menjual sepasang sepatu wanita daripada menjual sebuah mobil mewah. Namun mengetahui tingkat konversi ini penting, karena banyak bisnis yang sering over-estimasi alias terlalu optimis dalam memproyeksikan tingkat penjualan. Melihat tingkat konversi aktual ini akan menyadarkan Anda untuk lebih fokus pada upaya meningkatkan teknik-teknik penjualan. Juga, untuk membantu mengukur tingkat sukses dari perubahan apapun yang Anda lakukan.

Setelah mengetahui tingkat konversi penjualan, Anda kini mesti mencari cara untuk meningkatkannya. Beberapa kiat yang bisa dicoba:

1. Tekankan nilai plus produk Anda
Ketahui apa yang membuat produk Anda berbeda dari kompetitor dan sampaikan pesan itu secara jelas kepada calon pembeli. Contoh kasus: sebuah wedding organizer, setelah pemiliknya menjelaskan kepada calon konsumen bahwa ia telah merekrut seorang chef dari sebuah restoran terkemuka untuk urusan makanan, order bisnis ke organizer tersebut meningkat 14%.

2. Identifikasi hambatan dalam proses penjualan
Ketahui titik lemah bisnis Anda dan teliti lagi langkah-langkah apa yang bisa menghambat orang untuk membeli. Misalnya, apakah staf Anda selalu lupa menindaklanjuti telepon yang meminta katalog produk?

3. Gunakan pertanyaan ‘ajaib’ saat menjawab telepon
Jangan biarkan calon pembeli langsung menutup telepon setelah staf Anda menyebutkan harga produk yang ia tanyakan. Ajari staf untuk bertanya,”Terima kasih atas telepon Anda. Supaya kami bisa lebih membantu, bolehkah saya menanyakan sesuatu?” Ini akan membuka pintu agar Anda bisa lebih akrab dengan konsumen. Wirausaha jasa cuci mobil misalnya, bisa menanyakan untuk kegiatan apa biasanya konsumen memakai mobil, di mana dan berapa kali dalam seminggu mencuci mobil, apakah suka memakai ban atau velk merek tertentu, dan sebagainya.

4. Ganti pertanyaan “Ada yang bisa kami bantu?”
Biasanya, konsumen akan menjawab, “Oh, nggak. Terima kasih. Saya mau lihat-lihat dulu.” Dan percakapan pun berakhir. Lebih baik, instruksikan kepada staf untuk bertanya, “Halo, apakah Anda sudah pernah ke sini sebelumnya?” Jika mereka bilang ‘belum’, maka staf Anda bisa bilang, “Mari saya tunjukkan koleksi-koleksi kami.”

Kalau jawaban mereka ‘ya’, maka respons staf Anda sebaiknya, “Selamat datang kembali. Kami punya koleksi terbaru, pasti Anda suka.” Dengan cara ini, Anda tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk minta ditinggalkan sendiri.

5. Tulis ulang ‘panduan’ menjual
Banyak kegagalan penjualan terjadi akibat salah mengirimkan pesan kepada calon pembeli. Misalnya Anda bergerak dalam usaha alarm rumah. Staf marketing Anda menelpon calon konsumen dan bilang, ”Kami mendengar tetangga Anda kerampokan kemarin. Kami ingin memperkenalkan produk alarm rumah, yang kami yakin akan membuat rumah Anda aman.” Tentu saja konsumen akan tersinggung, karena ia dianggap tinggal di lingkungan yang tidak aman. Dengan mengecek kembali cara staf Anda menyapa, lalu merubahnya dengan sapaan yang lebih sopan dan halus, tingkat penjualan pun niscaya bisa meningkat.

6. Tanyakan apa yang konsumen butuhkan
Kedengarannya sangat basic, tapi banyak tenaga penjual yang tidak melakukannya. Latih staf Anda untuk menanyakan hal-hal yang bisa mengeksplorasi kebutuhan konsumen, serta pola pembelian mereka. Aplikasikan ini kepada tim telemarketing maupun tim penjualan langsung.

Yang penting untuk diingat, tim marketing bisa melakukan panggilan telepon yang persuasif ataupun membuat konsumen tertarik masuk ke toko. Namun Anda dianggap belum menang ‘perang’ kecuali jika sebagian besar orang yang berkunjung itu berubah menjadi pembeli. Berikan staf penjualan metode dan alat yang tepat agar lebih sedikit pengunjung yang keluar dari toko dengan tangan hampa.

Sumber :
http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=004&AR=6



Perlukah Menurunkan Harga?


Masalah penentuan harga selalu menimbulkan dilema, antara susahnya menghasilkan penjualan karena mematok harga yang tinggi, dengan memanjakan konsumen dengan harga yang rendah namun untung yang diperoleh tipis. Jadi, bagaimana menentukan harga yang pas?
Sebelum membuat keputusan penetapan harga, cobalah keluar dulu dari peran sebagai wirausaha dan berpura-puralah menjadi pembeli. Lihatlah situasi penentuan harga ini dari kacamata mereka. Mungkin dari sini Anda akan mendapat pencerahan, bahwa perubahan harga, bahkan yang sementara saja, bisa memberikan efek jangka panjang terhadap usaha Anda.
Berikut ini tiga skenario penetapan harga dan akibat-akibatnya, yang sudah dibuktikan melalui riset pemasaran:
Pertama, Anda menurunkan harga. Penelitian menunjukkan, konsumen akan membentuk harga referensi, yakni harga yang mereka anggap 'harga layak' bagi sebuah produk. Jika kita menurunkan harga, bahkan untuk sementara waktu, konsumen akan lebih mungkin menganggap harga baru ini sebagai harga yang layak atau 'harga sebenarnya' produk itu. Jadi jika nanti Anda menaikkan lagi harga ini, konsumen akan merasa bahwa harganya tidak layak lagi.
Yang juga perlu diingat, semua konsumen beranggapan ada hubungan antara harga dan kualitas. Barang yang didiskon diasumsikan sebagai barang berkualitas rendah. Jadi, menurunkan harga bisa jadi malah merugikan merek maupun penjualan Anda dalam jangka panjang.
Kedua, menaikkan harga barang. Jika konsumen biasanya membayar Rp 10.000 dan sekarang membayar Rp 15.000, konsumen akan merasa bahwa mereka mengalami kelebihan pembayaran 50%. Akibat yang terjadi biasanya lebih langsung, yakni menurunnya penjualan.
Ketiga, Anda mempunyai produk atau jasa baru yang mempunyai harga awal lebih tinggi dari produk sebelumnya. Ini tidak akan merugikan Anda. Konsumen yang tidak punya memori tentang merek Anda akan melihat harga baru ini sebagai tanda kualitas. Penelitian juga menunjukkan, jika harga lebih tinggi, pengalaman pakai yang diperoleh konsumen juga lebih baik.
Tentu saja, menetapkan harga terlalu tinggi juga kurang bijak dan mungkin tak bagus untuk penjualan. Tapi jika Anda ingin mengetes harga, lebih bagus untuk memulai harga tinggi lalu turun perlahan, daripada mulai dengan harga rendah kemudian makin meninggi.
TIP:
Beberapa pertanyaan yang perlu ditanyakan kepada diri-sendiri sebelum menetapkan perubahan harga:
Apakah produk Anda benar-benar dibutuhkan konsumen? Jika tidak, Anda perlu menurunkan harga agar bisa mendapatkan pembeli. Barang-barang yang menjadi kebutuhan primer akan selalu lebih diutamakan dibanding barang-barang kebutuhan sekunder.
Apakah Anda menawarkan kemewahan yang terjangkau? Di masa apapun, umumnya konsumen masih ingin sedikit memanjakan diri, asalkan harganya terjangkau.
Apakah Anda menawarkan sesuatu yang bisa membantu konsumen menyiasati masa krisis? Jika iya, apakah pesan itu sampai ke mereka? Jika ya, maka Anda dapat menetapkan harga yang menurut Anda sesuai. Jika tidak, Anda perlu menurunkan harga.
Apakah produk Anda lebih baik daripada kompetitor? Anda bisa menetapkan harga yang tinggi. Namun ini ada batasnya. Pada suatu titik tertentu, situasi ekonomi yang kurang bagus akan mendorong konsumen ke alternatif harga yang lebih murah.

Sumber :
http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=004&AR=12

Trik Memasarkan Produk di Facebook


Strategi pemasaran yang jitu dibutuhkan agar bisnis melaju pesat. Sudah bukan zamannya lagi mengandalkan pemasaran hanya dengan menata barang dagangan di toko atau kios. “Kehadiran internet telah merevolusi cara pebisnis memasarkan produk,” ujar Iim Faima, direktur Virtual Consulting, dalam seminar Taklukkan Krisis, Gali Potensi Lokal, 11 Juli 2009 lalu di Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta, Bali.

Jumlah pengguna internet di Indonesia hingga pertengahan 2009 lebih dari 60 juta orang. Sekitar 84% pengguna internet aktif biasanya mencari tahu informasi barang yang akan dibelinya melalui internet. “Kondisi ini memberi peluang besar bagi pebisnis untuk menjaring banyak konsumen secara online,” ujar Iim.

Banyak fasilitas yang bisa digunakan sebagai alat pemasaran yang murah namun efektif. Selain lewat e-mail dan milis, Anda juga bisa membuat website sendiri. Tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain desain harus menarik, materi jelas, dan navigasinya mudah. Website juga harus menampilkan detail informasi produk atau layanan. Sediakan pula fasilitas pembayaran yang fleksibel. Iim menyarankan dua cara pembayaran yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia, yakni cash on delivery dan transfer.

”Jangan lupa menambahkan fasilitas customer service, misalnya, nomor telepon dan alamat e-mail. Siapkan juga layanan tambahan sesuai karakter konsumen. Misalnya, pembeli bunga dan kado biasanya memerlukan bungkus cantik dan kartu ucapan. Berikan keduanya secara gratis, yang bisa dipilih di website Anda,” kata Iim, yang menyebutkan bahwa situs jejaring sosial seperti facebook juga menjadi sarana promosi yang bagus.

Memang, Anda perlu tahu aturan main yang berlaku. Untuk facebook, misalnya, yang paling aman adalah berpromosi di wall sendiri dengan kata-kata atau menampilkan pindaian selebaran. Bisa juga mengirim pesan di inbox teman-teman, tetapi ada batasnya. Dalam sehari, Anda hanya boleh mengirim ke 500 orang.

Berbisnis lewat online juga perlu strategi tepat. Salah satu tipnya adalah membuat proses pembelian yang sederhana. Jangan bebani calon pembeli dengan meminta mereka mengisi data terlalu banyak. “Dalam dunia online, makin sederhana proses, makin besar kemungkinan terjadinya pembelian,” ujar Iim. Maksimal, calon pembeli hanya perlu mengisi tiga data, yakni nama, e-mail, dan nomor telepon.

Sumber :
http://wanitawirausaha.femina.co.id/WebForm/contentDetail.aspx?MC=001&SMC=004&AR=11

 

MAMIK STORY